Previous
Next

Kamis, 30 Maret 2017

Ternyata Tak cuma Miyabi, 4 bintang porno Jepang ini pernah main film Indonesia!!!

Ternyata Tak cuma Miyabi, 4 bintang porno Jepang ini pernah main film Indonesia!!!


IDNMagazine.Unik - Beberapa tahun lalu, Maria Ozawa atau yang dikenal dengan Miyabi, salah satu bintang porno yang berasal dari Jepang ikut berperan dalam film Indonesia. Miyabi pernah ikut membintangi film Menculik Miyabi. Waktu itu ia melakukan syuting Menculik Miyabi di negara asalnya, Jepang. Film ini sempat tayang di beberapa bioskop Indonesia.

Selain Menculik Miyabi, ia juga sempat membintangi film Indonesia bertajuk Hantu Tanah Kusir pada 2010. Di situ, ia berperan sebagai wartawan asal Jepang dan dalam adegannya ia mengenakan kostum daerah serta mengendarai andong.

Nah, ternyata nggak cuma Miyabi saja yang berperan di film Indonesia, beberapa bintang porno asal Jepang juga pernah, lho. Dari film komedi sampai horor. Penasaran siapa saja? Intip yuk, daftarnya berikut ini dari berbagai sumber, Rabu (29/3).

1. Rin Sakuragi (Suster Keramas).


Suster Keramas adalah film horor komedi dewasa Indonesia yang diproduksi oleh Maxima Pictures dan didistribusikan oleh Maleo Pictures. Film ini disutradarai oleh Helfi Kardit dan dibintangi oleh Herfiza Novianti sebagai Kayla, Shinta Bachir sebagai Jeng Dollie, dan Rin Sakuragi sebagai Mitchiko.

Film ini berkisah mengenai seorang wisatawan Jepang (Rin Sakuragi) yang mencari saudaranya, yang berprofesi sebagai suster di Indonesia. Ironisnya, saudaranya itu ternyata sudah meninggal, sementara di tempat lain ada tiga sekawan yaitu Kayla, Barry, dan Ariel yang diganggu oleh hantu dari saudara Rin Sakuragi.

2. Leah Yuzuki (Rayuan Arwah Penasaran).


Tak hanya Miyabi, Leah Yuzuki juga pernah membintangi film horor Indonesia, judulnya Rayuan Arwah Penasaran. Leah Yuzuki yang juga dikenal sebagai Leah Dizon ini berperan sebagai Ira. Pornstar berusia 30 tahun ini beradu akting dengan Rahma Azhari dan Putri Patricia.

3. Erika Kirihara (Arisan Berondong).


Erika Kirihara memang tidak dipasang sebagai bintang utama seperti rekan senegaranya Rin Sakuragi di film Suster Keramas. Tapi model dan juga bintang porno kelahiran Tokyo itu di film Arisan Berondong dinilai mampu memberikan warna tersendiri dalam film yang dirilis tahun 2010 tersebut.

4. Sora Aoi (Suster Keramas 2).


Suster Keramas 2 adalah film horor Indonesia yang dirilis pada 21 April 2011 dengan disutradarai oleh Findo Purwono HW yang dibintangi oleh Ricky Harun dan Zidni Adam, serta tak ketinggalan, Sora Aoi. Film ini menceritakan tentang tiga anak muda, Jack (Ricky Harun), Tando (Zidni Adam) dan Shelly (Violenzia Jeanette) yang gemar berbalap motor di jalan, sehingga suatu malam Shelly mengalami kecelakaan. Kedua sahabatnya segera membawa Shelly ke rumah sakit terdekat. Ketika menunggu Shelly dirawat, mereka bertemu dengan gadis Jepang yang bernama Sachiko (Sora Aoi) yang sedang mengantar berobat sahabatnya, Cakil (Marcell Darwin).

Rabu, 22 Maret 2017

Sidang ke-15 Ahli Hukum Pertanyakan Unsur Pidana di Kasus Ahok

Sidang ke-15 Ahli Hukum Pertanyakan Unsur Pidana di Kasus Ahok

sumber : liputan6.com | idnmagazine.com
IDNMagazine.Politik - Sidang kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kembali digelar di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan. Dalam sidang ke-15 saksi Djisman Samosir menyebutkan, sulit untuk membuktikan terdakwa Ahok terjerat pidana penistaan.

Ahli Hukum Pidana dari Universitas Parahyangan itu menyatakan, dalam kasus ini dirinya tidak melihat adanya unsur pidana dalam pernyataan Ahok soal Al Maidah ayat 51 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu itu.

"Siapa yang ternodakan (dalam kasus Ahok)? Kalau dalam kasus pidana itu kan apa yang hilang, siapa yang merasa kehilangan. Harus jelas dulu. Karena pidana harus ada fakta," kata Djisman dalam sidang, Selasa malam (21/3/2017).

Menurut Djisman, sampai saat ini kasus Ahok belum terang alias masih kabur. Karena itu, dia melihat wajar jika tim pengacara Ahok terus mengorek keterangan mendalam soal ada atau tidak unsur pidana. Kendati, pembenaran untuk membela Ahok harus disesuaikan dengan fakta.

"Jadi itu kenapa pegacara harus cari alat bukti yang sah, alat bukti untuk menguak kebenaran materil," tutur dia.

Dalam sidang Ahok, Djisman juga memaparkan pasal dakwaan Ahok yakni Pasal 156 atau Pasal 156a KUHP. Dia mengatakan, Pasal 156 merupakan pasal pidana yang bisa dikenakan atau yang dilakukan oleh antargolongan.

"Karena itu ada ayat a nya. Pasal 156a itu ada menyinggung soal agama di situ perbedaannya," Djisman menandaskan.

Dalam keterangan lain sebelumnya, Djisman juga mengkritisi keberadaan sejumlah saksi sidang Ahok. Dia mengatakan, saksi yang dihadirkan dalam persidangan sesuai Pasal 184 KUHAP adalah mereka yang benar-benar melihat, mendengar, dan merasakan langsung peristiwanya.

"Saya tidak bermaksud mengajarkan yang mulia. Tapi saksi yang sesuai dengan KUHAP adalah saksi yang benar-benar orang langsung," ujar Djisman dalam persidangan di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa 21 Maret 2017.

Sementara, kata Djisman, dari belasan saksi pelapor Ahok yang dihadirkan ke persidangan, tak ada satu pun saksi yang menghadiri langsung pidato Ahok saat kunjungan kerja di Kepulauan Seribu. Kebanyakan dari mereka mengaku mengetahui peristiwa tersebut, setelah menonton video yang telah tersebar di beberapa media sosial.

sumber : liputan6.com